Mesin Pemotong Tempe
Proses Produksi
Mesin tampak menggunakan rangka baja dengan penutup pelindung berbahan stainless steel dan sistem transmisi puli–sabuk yang digerakkan motor listrik. Desain ini umum digunakan pada industri rumah tangga karena sederhana, mudah dirawat, serta mampu menghasilkan irisan tempe yang konsisten untuk produksi keripik tempe skala UMKM.
Proses produksi keripik tempe diawali dengan pembuatan tempe sebagai bahan baku utama. Kedelai dipilih berdasarkan kualitas yang baik, kemudian melalui beberapa tahapan yaitu pencucian, perebusan pertama, perendaman selama ±12–24 jam, pengupasan kulit ari, pencucian kembali, dan perebusan kedua hingga kedelai matang. Setelah proses perebusan selesai, kedelai ditiriskan hingga kadar air berkurang dan suhunya turun mencapai suhu ruang. Selanjutnya kedelai dicampur dengan ragi tempe (Rhizopus oligosporus) secara merata, kemudian dikemas menggunakan plastik berlubang atau daun pisang dan difermentasi selama 36–48 jam hingga terbentuk tempe dengan tekstur padat dan kompak.
Setelah tempe matang, proses berikutnya adalah pemotongan menggunakan mesin pemotong tempe. Mesin pada gambar bekerja dengan sistem mekanis yang digerakkan oleh motor listrik melalui transmisi puli dan sabuk (belt). Putaran motor diteruskan ke poros utama yang menggerakkan mekanisme pendorong tempe menuju mata pisau pemotong. Pada bagian depan mesin terdapat rel dan dudukan sebagai jalur pergerakan tempat tempe, sedangkan penutup berbahan stainless steel berfungsi sebagai pelindung operator sekaligus menjaga kebersihan selama proses pemotongan.
Sebelum mesin dioperasikan, tempe dipotong sesuai ukuran dudukan mesin kemudian ditempatkan pada bagian penjepit atau pendorong. Setelah motor dinyalakan, operator menggeser atau mendorong tempe secara perlahan menuju mata pisau yang berputar. Mata pisau akan mengiris tempe secara kontinu dengan ketebalan yang relatif seragam, umumnya berkisar 1–2 mm, sesuai kebutuhan produksi keripik tempe. Hasil irisan kemudian ditampung pada wadah yang telah disiapkan sebelum memasuki tahapan pencelupan ke dalam adonan tepung berbumbu dan proses penggorengan.
Penggunaan mesin pemotong tempe memberikan berbagai keuntungan dibandingkan pemotongan secara manual. Mesin mampu meningkatkan kapasitas produksi, mempercepat waktu pemotongan, menghasilkan irisan yang lebih tipis dan seragam, mengurangi tingkat kerusakan tempe akibat tekanan yang tidak merata, serta meningkatkan efisiensi tenaga kerja. Keseragaman ketebalan irisan juga berpengaruh terhadap kualitas produk akhir karena menghasilkan tingkat kematangan dan kerenyahan keripik yang lebih merata saat proses penggorengan.
Berdasarkan pengamatan di Sentra Industri Keripik Tempe Sutojayan, penggunaan mesin ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga konsistensi mutu produk dan meningkatkan produktivitas UMKM. Dengan dukungan peralatan semiotomatis seperti mesin pemotong tempe, pelaku usaha mampu memenuhi permintaan pasar yang lebih besar tanpa mengurangi kualitas produk yang dihasilkan.
Tahapan Operasional Mesin
Tempe hasil fermentasi dipotong sesuai ukuran dudukan mesin.
Mesin dihubungkan dengan sumber listrik dan motor penggerak dinyalakan.
Tempe ditempatkan pada rel atau dudukan pendorong.
Operator menggeser tempe secara perlahan menuju mata pisau yang berputar.
Mata pisau mengiris tempe secara kontinu dengan ketebalan yang seragam.
Irisan tempe ditampung dalam wadah penampung.
Irisan tempe siap diproses pada tahap pelapisan adonan bumbu dan penggorengan menjadi keripik tempe.